[Blog Tour] Cinta Dalam Semangkuk Sop Kaki Kambing ———- GIVEAWAY!!!!


Judul Buku : Cinta dalam Semangkuk Sop

Kaki Kambing

Penulis : Ifa Avianty

Penerbit : Indiva Media Kreasi
Tebal : 176 Halaman
Terbit : Oktober 2016


“Mbak, saya pesan sop kaki kambing sama nasi. Jangan lupa cabe rawit yang banyak, terus dikasih acar timun. Minumnya es teh dua gelas, sama es batu yang banyak. Jangan gede-gede es batunya. Terus minta kerupuk kulit satu bungkus. Oh, ada empek-empek kan, Mbak? Waktu dulu saya ke sini ada soalnya.”

Brrrr. Kwek, kwek, kwek. 

Si mbak tampak mencatat dengan tergesa sambil mengangguk. 

“Mbak, Mbak, saya minta pergedel dua potong.” 

Astaga. Ini beneran dia punya peliharaan naga di perutnya kali ya. 

*** 
Stephanie si Putri Ketimun yang kerap patah hati, Awy sang Pangeran Naga yang dimabuk asmara, dan Gandhi si jejaka nerdy. Inilah kisah yang diduga cinta segitiga. 

------------------------- 

Ini bukan pertama kalinya aku membaca karya Kak Ifa. Kali ini kak Ifa kembali dengan novel terbarunya, Cinta dalam Semangkuk Sop Kaki Kambing. Judulnya ingatin aku dengan judul-judul FTV yang sering kudengar. Tetapi, tunggu dulu ceritanya tidak sesederhana kisah FTV yang mungkin pernah kamu tonton loh.

Awalnya aku pikir aku akan disuguhkan dengan sebuah kisah cinta karena semangkok sop kaki kambing, ternyata aku salah besar. Kisah ini tidak sesederhana itu. Ini juga bukan kisah cinta segitiga yang sering kamu baca, ini tentang 3 orang yang terjebak dengan perasaan yang bernama cinta.

Ini tentang kisah Stephanie, Awy dan Gandhi yang secara tidak sengaja bersinggungan dengan cinta. Stephanie dan Awy adalah teman saat TK dan akhirnya bertemu kembali. Interaksi keduanya ternyata menumbuhkan ide Awy untuk menjodohkan Gandhi dengan Stephanie. Namun, belum juga ide itu terlaksana, ternyata Awy berubah pikiran. Awy ternyata baru menyadari kalau dia selalu nyaman dengan Stephanie dan malah tidak rela jika Stephanie bersama Gandhi.
"Hah? Jadi cuma begini cara orang menyatakan perasaan, lalu jadian atau lamaran?"
"Mengapa segampang ini, sementara mencarinya kita bisa sampai ke ujung dunia? Apakah sejatinya cinta itu simpel? Cinta? Lalu kamu sudah yakin kalau ini cinta? Tidakkah kamu ingin mengujinya dulu?" (Halaman 29)
Singkat kata, sebuah percakapan di telepon malah membuat keduanya malah langsung terikat sebuah hubungan sebagai sepasang kekasih. Stephanie secara impulsif malah menerima pernyataan Awy. Tetapi, setelah dia menelaah kembali perasaannya, dia malah bingung karena tidak ada getar yang sama untuk Awy dibandingkan terhadap pria yang sebelumnya membuatnya patah hati begitu dalam.
"Kadang aku percaya pada kehidupan sebelum yang sekarang. Soalnya aku termasuk sering bertemu orang-orang yang rasanya pernah kenal begitu lama denganku. Bukan hanya kenal wajah dan suara, tapi juga ketika sudah terlibat obrolan, nyambung. Aneh." (Halaman 49)
Hingga kemudian Gandhi tidak sengaja bertemu dengan Stephanie dan Awy saat mereka sedang menikmati semangkuk sop kaki kambing,menu andalan restoran Gandhi. Gandhi dibuat tertarik dengan sosok Stephanie, sayangnya dia tahu kalau Awy sudah berniat serius terhadap Stephanie.
"Karena kita tidak tahu umur kita sampai di mana. Maka boleh kan jika kita menginginkan kebahagiaan bagi orang-orang tercinta kita sebelum umur kita selesai." (Halaman 63)
Semuanya semakin rumit, ketika paksaan untuk menikah bagi Stephanie semakin kencang berembus. Ibunya yang sedang sakit keras melalui ayahnya meminta agar Stephanie segera menikah. Dilain sisi Awy pun juga terkena kasus yang sama. Dia malah mau dijodohkan dengan keluarga terdekatnya.
"Nikah itu kan tidak main-main. Buat seumur hidup, saya enggak bisa membayangkan bagaimana jadinya, jika separuh lebih hidup saya ternyata tidak bahagia ..." (Halaman 63)
Awy pun memberanikan diri ingin melamar Stephanie. Tetapi Stephanie masih dilema dengan perasaannya. Sedangkan di sisi lain, ternyata hubungan Awy dan Stephanie tidak disetujui oleh keluarganya. Ayahnya meminta untuk mencari istri yang kalau bisa satu suku dengannya, ternyata ada sebuah rahasia masa lalu turun temurun yang membuat keluarga besar Awy hanya mau mengambil istri/suami dari suku yang sama dengan mereka.

Apa yang akan terjadi dengan hubungan Stephanie, Awy dan Gandhi? Bagaimana akhir kisah mereka. Temukan sendiri jawabannya dalam novel ini :)
"Aku hanya mau jadi Pocahontas, bukan Cinderella yang begitu ingin memikat Sang Prince Charming demi merubah hidupnya. Aku punya hidup sendiri. Aku adalah Pocahontas yang memilih memperjuangkan kebahagiaannya sebelum bertemu dengan seseorang yang benar-benar the One baginya." (Halaman 65)
Membaca novel ini tidak membutuhkan waktu yang lama, karena tergolong singkat ceritanya. Tetapi kisah cinta disini tidak sesederhana yang kupikir. Malah aku disuguhkan dengan sebuah kisah percintaan yang rumit, untungnya disampaikan dengan bahasa yang ringan dan mudah dicerna untuk diikuti.

Setiap orang pasti pernah berada di posisi Stephanie, Awy atau Gandhi. Apalagi jika sudah dalam usia yang cukup matang, pasti ada saja yang menanyakan soal pasangan dan itu sudah menjadi topik umum.
"Menikah kan bukan hanya keinginan satu pihak. Aku juga sebagai calon istri, harus nyaman dulu. Aku enggak nyaman. Aku enggak mau menikah dengan seseorang hanya karena dia menjadi semacam cinta kilat." (Halaman 77)
Untuk Stephanie, aku bisa mengerti kenapa kedua orang tuanya ingin agar dia cepat-cepat menikah karena bagaimana pun orang tua selalu ingin melihat anaknya bahagia. Apalagi bisa mengantarkan anaknya ke pintu gerbang pernikahan, itu hal yang luar biasa sekali.
"Temukan dulu orang yang membuat kamu benar-benar ingin menikah. Pasti pikiranmu berubah." (Halaman 78)
Untuk Awy, aku bisa memahami kenapa keluarganya agak keberatan dengan hubungannya bersama Stephanie. Awalnya aku penasaran kenapa, apalagi rasanya zaman sekarang, sudah jarang yang mempermasalahkan soal suku atau budaya. Tetapi setelah membaca side-story dalam novel ini, aku jadi memahami alasan sesungguhnya.
"Pernikahan tidak boleh terjadi dengan keterpaksaan, namun benar juga bahwa cinta bisa diupayakan. Benar bahwa perbedaan lingkungan bisa jadi duri kelak dalam pernikahan, namun bukankah kita juga punya semacam kemampuan beradaptasi?" (Halaman 89)
Untuk Gandhi, aku bisa memahami kalau dia juga jadi ikutan menyukai Stephanie. Bagaimana pun sulit untuk menolak perasaan yang dinamakan cinta ketika dia hadir. Sayangnya, dia malah tidak berusaha memperbaiki hubungannya dengan Awy, padahal khan persahabatan itu juga tak kalah pentingnya.

Membaca novel ini akan membuatmu menyadari bahwa cinta tidak bisa dipaksakan. Pilihan tetap jatuh pada diri kita, mau menerima atau tidak cinta yang hadir untuk kita. Selamat jatuh cinta :) 

-------------------GIVEAWAY TIME--------------------- 


Aku punya 1 eks gratis novel Cinta Dalam Semangkuk Sop Kaki Kambing untuk 1 (satu) orang yang beruntung. Caranya: 

1. Peserta memiliki alamat pengiriman di Indonesia. 

2. Follow media sosial kami: 



3. share info GA ini di twitter dengan mention @RizkyMirgawati @penerbitindiva @ifaavianty sertakan hastag #CDSKIfa 

4. Follow blog ini via GFC, Google+ atau email 

5. Jawab pertanyaan di kolom komentar, dengan format nama, akun twitter, link share, kota tempat tinggal dan jawabanmu: 

"Kamu lebih memilih mencintai atau dicintai, kenapa?"

6. Giveaway ini akan berlangsung mulai hari ini sampai tanggal 25 Desember 2016.

********UPDATE*********

Saatnya memilih 1 (satu) nama yang beruntung, dan dia adalah:

Dewa Ayu Riska / @flamingo_

Selamat buat pemenang, silahkan DM aku di twitter Nama, Alamat Lengkap dan No.hp yang bisa dihubungi untuk pengiriman hadiahmu ya :) 

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats