Blog Tour, Book Review: Yes, Boss – Elektra Queen


Judul buku: Yes, Boss
Penulis: Elektra Queen
Penerbit: Penerbit Twigora
Jumlah Halaman: 410 halaman
Harga: Rp92.000

Blurb:
Ethan Alexander Fahim adalah masalah. Tak hanya ganteng setengah mati, direktur agen perjalanan Pelesiran itu juga punya reputasi memacari asistennya sendiri. Masalahnya, hubungan tak profesional itu biasanya tak bertahan lama dan berakhir tragis: si asisten memutuskan untuk berhenti ketimbang sering-sering bertemu dengan orang yang bertanggung jawab membuatnya patah hati.

Gabriella Rosleen telanjur mencintai pekerjaannya ini. Jadi ketika terpaksa menggantikan asisten lama Ethan yang baru saja berhenti, Gaby berjanji dalam hati untuk tak tergoda pesona bosnya itu. Secara teori, terdengar logis dan gampang—tapi praktiknya? 

Hidup Gaby bertambah sulit ketika Ethan meminta—no, menugasinya untuk mendampingi laki-laki itu mengetes paket perjalanan bulan madu yang akan jadi produk baru Pelesiran. Tak hanya selalu bersama bosnya setiap harinya, dia juga harus menikmati perjalanan itu sebagai ‘pasangan’ Ethan. Kalau sudah begini, bagaimana cara Gaby bertahan lebih lama? Perempuan mana yang sanggup melindungi hatinya dari Ethan selama perjalanan romantis di Italia?  

***

Yes, Boss ini adalah kisahnya Gaby dengan atasannya yang kelihatan sulit digapai, yaitu Ethan. Gaby bekerja di Pelesiran, perusahaan keluarga Fahim yang kini dikelola oleh Ethan dan kakak-kakaknya, Barry dan Ian, selepas kepergian orangtua mereka untuk selama-lamanya. Pelesiran menggeluti bidang travel, menyajikan paket-paket wisata kepada para konsumennya dengan pilihan tujuan di dalam maupun luar negeri. Di kantor, Ethan terkenal sebagai bos 'pemangsa asisten'. Coba hitung sudah berapa asisten pribadinya yang ia pacari, mungkin kamu langsung akan mengamini julukan itu. Yang terakhir adalah Vira, yang bernasib sama seperti perempuan-perempuan lainnya yang Ethan pacari terlebih dahulu--putus, kemudian mengundurkan diri dari jabatannya, sekaligus keluar dari Pelesiran. Hal ini makin membuat Gaby ngeri berhadapan dengan Ethan yang tidak berperilaku seperti Barry, kakaknya, sekaligus atasan Gaby sekarang.

Ethan memiliki perawakan dan fisik yang hampir sempurna, bahkan Gaby pun tidak bisa menghindar dari pesona Ethan dan mengakui ketampanannya. Tetapi Gaby tahu ua hanya bisa pasrah karena selera Ethan sangat tinggi, dan dirinya tidak masuk dalam kriteria Ethan yang mana pun. Sampai suatu hari, karena kinerja Gaby yang dinilai sangat baik oleh atasan-atasannya, ia direkrut sebagai asisten Ethan untuk menggantikan Vira, sekaligus sebagai teman seperjalanan Ethan ke Italia untuk melakukan survey tentang paket honeymoon ekonomis yang tengah disusun oleh Pelesiran! Entah apakah ini nasib buruk bagi Gaby, bepergian berdua dengan atasannya yang tampan namun terlihat angkuh ke salah satu negara yang paling romantis sedunia. 

***

Nama Elektra Queen mulai dikenal sebagai pemenang utama kompetisi menulis Penerbit Twigora tahun lalu. Genre yang diusung di buku ini sudah tentu adalah romance, namun diberikan bumbu-bumbu romansa yang terjadi di kantor. Interaksi antara bos dengan staf-nya yang seharusnya profesional, malah diwarnai dengan kisah cinta dan rasa sayang. Yang aku sukai adalah interaksi antar karyawan dan berbagai macam jenis pekerjaan yang dilakukan di sebuah kantor travel tergambar cukup baik dalam 'Yes, Boss'. Banyak sekali tempat-tempat indah dimention dalam novel ini sebagai bagian dari pekerjaan karyawan Pelesiran. Nah, yang paling menarik adalah ketika Italia dijadikan setting yang cukup mendominasi di buku ini beserta segala penggambaran suasana dan juga informasi mengenai berbagai tempat dan bangunan cantik yang dijadikan lokasi wisata hampir semua turis di dunia ini. Deksripsi tentang Italia sangatlah detail, mulai dari Roma, Florence, Napoli, Pompeii, dan Pulau Capri dituliskan dengan sangat baik. Aku sangat menikmati kisah Gaby dan Ethan selama berpetualang di kota-kota menawan di Italia. Padahal, sangat banyak deksripsi historis atau narasi-narasi tentang informasi tempat tersebut yang sangat mirip dengan buku panduan tur yang biasanya nggak begitu aku suka. Misalnya seperti penjelasan latar belakang bangunan itu didirikan dan sebagainya. Tetapi di novel ini perjalanan yang dilakukan dipandu oleh seorang tour guide, dan penulis sangat pintar menyiasatinya dengan memasukkan berbagai informasi tersebut sebagai dialog dari si pemandu wisata, bukan narasi penulis. Dan tempat-tempat tersebut dapat dimanfaatkan oleh penulis dengan baik sebagai latar tempat yang mampu membangun suasana romantis bagi Ethan dan Gaby dengan berbagai macam kegiatan yang mereka lakukan seperti minum wine bersama, makan di restauran bersama, sehingga tidak hanya menjadi tempelan. Sayangnya, buku setebal ini sama sekali tidak dilengkapi oleh ilustrasi yang dapat menambah nilai plus dan membantu pembaca dalam membayangkan suasana tempat tersebut. Mungkin dalam terbitan selanjutnya, hal ini dapat dipertimbangkan oleh penerbit.

Selanjutnya adalah mengenai alur ceritanya. Aku sangat menikmati alurnya, termausk interaksi antara Gaby dan Ethan serta kepada teman-teman kerja lainnya. Terlihat bahwa hubungan Gaby dan Ethan berkembang dari waktu ke waktu, proses pemupukan perasaan itu dijelaskan dengan baik diwarnai dengan berbagai peristiwa yang mengharuskan mereka berdua untuk selalu berbicara satu sama lain, intimasi yang membuat mereka berdua mulai menyadari ada 'sesuatu' yang mulai bertumbuh selama perjalanan mereka dari satu kota ke kota lainnya. Meskipun satu hal, aku kurang menyukai beberapa konflik yang dihadirkan. Namun, masalah tersebut dapat terbayarkan dengan interaksi lucu-romantis-mengesalkan yang terjadi antara Gaby dan Ethan. 

Untuk karakter dari tokoh-tokoh yang ada, aku paling menyukai Barry yang sangat supel meskipun ia adalah seorang bos, dan bisa dibilang lebih menawan daripada Ethan jika tidak hanya dibandingkan dari segi fisik. Tokoh yang tidak kusukai, mungkin bisa ditebak dan agak mengherankan--Ethan. Menurutku hanya di awal saja ia diperkenalkan sebagai lelaki rasional yang nggak mau ribet dan nggak kekanakan ketika pacaran, namun lama-kelamaan agak mengesalkan juga melihat tingkahnya kepada Gaby, meski tidak sedikit juga momen-momen di mana aku cukup menyukainya. Sementara Gaby, menurutku ia adalah gadis yang cukup profesional, dan lebih baik melupakan perlakuan tidak mengenakkan seseorang dibandingkan harus memikirkannya dan menjadikannya beban hidup. Gaby ini lepas, namun ia juga nggak bisa diperlakukan seenaknya, nanti ia bisa marah. Ia juga tipe yang makin ditantang, semakin berani. 

Selain itu, bagi teman-teman yang takut novel ini penuh adegan 'panas' karena dua tokohnya sama-sama dewasa dan ini novel romance, jangan takut, karena novel ini masih sangat sopan. Keintiman dan sentuhan-sentuhan fisiknya juga nggak se'ganas' novel-novelnya Christian Simamora (yang aku suka banget sih). Jadi masih cukup aman buat anak-anak 17 tahun ke bawah 😀 Overall, bagi kalian yang suka cerita romantis ditambah dengan latar luar negeri yang ciamik, novel ini bisa banget dijadikan pilihan!



Share this post:

Recent Posts

Comments are closed.

View My Stats