Betapa Sulitnya Baca Nonfiksi + Giveaway

Edited by Me

Bulan ini adalah bulan bahagia bagi BBI karena memperingati hari jadinya yang ke-6 sekaligus bulan yang paling malas bagiku untuk menulis blog. Sangat disayangkan karena draf untuk menyemarakkan ulang tahun BBI sudah dibuat namun pada hari yang telah ditentukan draf tersebut tidak terselesaikan. Yah, siapa yang mau terjangkiti blogging slump? Bahkan beberapa artikel yang menguraikan langkah-langkah untuk keluar dari blogging slump masih kurang masuk akal untuk dilakukan. Sebagai upaya penyembuhan, aku coba angkat topik bacaan nonfiksi yang sudah beberapa waktu lalu dirumuskan dan memberikan opiniku tentangnya. Karena aku tahu, aku tidak begitu menyukai bacaan nonfiksi. Setidaknya, belum. Dan itu mungkin akan menjadi problem jika tidak dicari tahu lebih jauh. Pertanyaan utama yang sering berlalu lalang: apakah aku harus gemar membaca nonfiksi atau tetap dengan apa yang kusuka saja? Bila begitu, kenapa aku begitu sulit membaca nonfiksi? Apakah kamu memiliki pertanyaan yang sama untuk dirimu sendiri? Bila ya, ikuti terus jabaran berikut.

Mari mulai dengan pengertian nonfiksi. Bacaan nonfiksi adalah jenis bacaan yang bukan fiksi dan berdasarkan kenyataan. Dalam hal ini, seseorang yang menuliskan nonfiksi memiliki tanggung jawab atas kebenaran atau akurasi dari peristiwa, orang, dan/atau informasi yang disajikan. Nonfiksi tidak hanya buku-buku yang bersifat informatif dan persuasif yang biasanya disertai pembuktian ilmiah maupun opini dari pengarangnya. Jurnal-jurnal, fotografi, dan artikel-artikel ilmiah pada majalah atau media daring juga termasuk bagian dari nonfiksi bila memenuhi syarat-syarat yang disebutkan di atas. Setelah mengetahui hal ini, barulah mengerti bahwa bacaan nonfiksi ternyata luas dan bisa mengangkat topik apa saja.

Dalam sebuah forum, seseorang bertanya tentang perbandingan antara membaca fiksi dan nonfiksi dengan meminta penjelasan manfaatnya. Bagiku pertanyaan ini sungguh dasar, seperti kau menanyakan manfaat air putih padahal kau sudah kehausan. Yah, tapi tidak ada salahnya juga untuk bertanya. Laiknya sebuah forum, beragam jawaban muncul namun hampir semuanya mengerucut pada keduanya yang tidak bisa dibandingkan dan sama-sama memberikan manfaat. Bahwa fiksi akan memberikan hiburan dan membangun imajinasi dan nonfiksi akan memberikan informasi dan membangun ilmu pengetahuan.

Membaca nonfiksi bukanlah sebuah kegemaran melainkan kebutuhan

Aku sempat mengajukan pertanyaan melalui media sosial Twitter tentang kesukaan membaca buku nonfiksi dan meminta alasannya. Dari lebih dari 60 respons, 79% di antara mereka mengaku biasa saja terhadap bacaan nonfiksi. Sisanya terbagi menjadi amat menyukai nonfiksi (14%) dan sama sekali tidak suka nonfiksi (7%). Alasannya pun kurang lebih sama: tergantung kebutuhan. Di antara dari mereka membaca nonfiksi untuk riset proyek mereka dan hal-hal yang sesuai dengan minat mereka. Dilihat dari alasan-alasan yang diberikan tersebut, aku jadi berpikir bahwa membaca nonfiksi bukanlah sebuah bentuk kegemaran melainkan kebutuhan. Contohnya, bila kamu akan menulis sebuah naskah dengan memerlukan pendalaman karakter yang memiliki penyakit tertentu, kamu akan coba untuk membaca buku-buku yang berkenaan dengan penyakit tersebut. Atau bila kamu akan melakukan perjalanan ke sebuah kota, kamu akan membaca buku atau artikel seputar kota tersebut; makanan khas di sana, tempat wisata favorit, hingga hal-hal yang harus dipatuhi di sana. Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, bahwa bacaan nonfiksi adalah sumber informasi dan ilmu pengetahuan.


Aku juga bertanya pada teman-teman grup WhatsApp yang mayoritas di dalamnya pembaca fiksi tentang kans membaca nonfiksi. Satu orang menjawab bahwa membaca buku-buku realistic fiction pun sebenarnya mengandung nonfiksi sehingga ia mengaku juga membaca nonfiksi. Yang lainnya malah kilas balik ke zaman sekolah di mana buku pelajaran yang termasuk nonfiksi memiliki banyak pengetahuan namun terasa kering dan membuat ia enggan membaca nonfiksi. Hal yang sama juga diutarakan teman yang lainnya, bahwa sejak sekolah sampai kuliah sudah dicekoki berbagai macam bacaan nonfiksi yang tumpah-ruah. Tapi bukan berarti nggak baca juga, karena ia hingga kini masih membaca nonfiksi yang lebih ke pengetahuan umum dan yang berhubungan dengan pekerjaan, pungkasnya. Alasan-alasan tersebut semakin meyakinkanku bahwa membaca nonfiksi hanya sebuah kebutuhan.

Dalam ulasan buku "Steal Like An Artist", aku menyebutkan bahwa aku jarang baca buku nonfiksi. Setelah memikirkan dalam-dalam, aku memiliki alasan kenapa aku menjadi begitu sulit membaca nonfiksi. Alasan yang pertama adalah aku sudah terbiasa membaca fiksi dan memang begitulah faktanya. Titik. Kedua, topik yang diangkat dalam bacaan nonfiksi terlalu berat, padahal aku membaca buku bertujuan untuk hiburan alias melepaskan diri dari segala macam hal "berat" yang sudah terserak di dunia nyata. Alasan terakhir, ya belum saatnya saja karena bila sudah mendapatkan jenis bacaan nonfiksi yang sesuai, aku sudah pasti akan membacanya. Pasti ada slah ketika topik bacaan nonfiksi itu amat sangat kamu ingin tahu dan kamu tertarik terhadapnya. Buktinya, aku juga baca beberapa buku nonfiksi dan beberapa di antaranya sudah kuulas pada blog ini dengan label non-fiction.

Jadi, sudah dapat dipahami bahwa ternyata tidak masalah kamu tidak begitu banyak membaca nonfiksi. Hal itu bisa jadi karena kamu memang tidak perlu banyak-banyak membacanya. Atau mungkin kamu memang belum memiliki topik yang perlu kamu cari tahu dalam bacaan nonfiksi. Dan ingat, majalah serta jurnal-jurnal dan artikel-artikel ilmiah yang tersebar di internet pun termasuk bacaan nonfiksi. Bila kamu suka membacanya, berarti kamu juga suka membaca nonfiksi. Dalam pekerjaanku sekarang, aku juga dituntut untuk melakukan hal tersebut. Bahkan ada beberapa situs web yang sudah ditandai dan termasuk laman paling sering kubuka. Di antaranya adalah lifehack.org dan psychologytoday.com. Namun, apakah aku lantas termasuk orang yang gemar membaca nonfiksi? Kuakui tidak. Dan sepertinya, jadi penggemar bacaan nonfiksi itu sedikit tidak keren. :p

Sumber

Giveaway!

Aku ingin tahu bagaimana pendapatmu tentang bacaan nonfiksi. Apakah kamu menyukainya? Atau kamu sama denganku yang juga membaca artikel-artikel di media daring? Silakan jelaskan pada kolom komentar dan kamu berkesempatan menjadi salah satu dari dua orang yang berhak mendapatkan dua paket buku kolpri sebagai berikut:

Boxset Rene Suhardono berisi "Your Job Is Not Your Career" & "Career Snippet"
dan
"The Introvert Advantage" karya Marti Olsen Laney

Keduanya nonfiksi, lho! Jangan lupa sertakan juga kota domisilimu pada kolom komentar di bawah ini. Aku menunggu pendapatmu sampai 25 April 2017 dan semoga beruntung! Oh ya, terakhir: Selamat ulang tahun yang ke-6 untuk Bebi dan teman-teman member Blogger Buku Indonesia!


Update!

Aku senang dengan respons teman-teman dan komentarnya seputar buku nonfiksi. Tidak hanya asal berkomentar tetapi juga memberikan pendapat yang mendalam tentang genre buku ini. Terima kasih untuk teman-teman yang sudah meluangkan waktunya untuk ikut berpartisipasi dalam givewaway kali ini. Saatnya memilih dua orang yang beruntung untuk mendapatkan buku-buku yang sudah kujanjikan di atas. Dan keduanya adalah:

Luksie Wirpiyance (Tangerang Selatan)
yang mendapatkan
Boxset Rene Suhardono berisi "Your Job Is Not Your Career" & "Career Snippet"
dan
Resita Putri (Denpasar)
yang mendapatkan
"The Introvert Advantage" karya Marti Olsen Laney

Silakan untuk segera konfirmasi data diri (nama + alamat + nomor telepon) via e-mail oughmybooks[at]gmail[dot]com dengan subjek "Giveaway Nonfiksi". Aku tunggu!

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats