Berkenalan dengan Teori Ingatan Seluler melalui UnSouled

Edited by Me

Sebuah tautan yang juga tertera dalam awalan salah satu bab pada buku “UnSouled” karya Neal Shusterman menjabarkan studi pasien yang menerima transplantasi organ yang memiliki ingatan seluler yang identik dengan pendonor yang mentransferkan organnya kepada resipien. Penemuan yang berjudul “Organ Transplants and Cellular Memories” ini menarik untuk ditelusuri karena masing-masing hubungan atas ingatan seluler antara donor dan resipien itu berbeda-beda; ikatan tersebut bisa dari segi tingkah laku, preferensi, sampai memori. Metode yang digunakan adalah dengan mewawancarai resipien, keluarga resipien, dan keluarga donor. Kesaksian mereka memunculkan satu benang merah yang menjalin pendonor organ dengan resipiennya. Salah satu kasusnya adalah resipien laki-laki 25 tahun penderita cystic fibrosis menerima jantung dan paru-paru dari donor perempuan 24 tahun yang meninggal akibat kecelakaan. Dari laporan yang didapat, resipien menyebutkan bahwa sejak mengalami operasi, ia merasa lebih terangsang dari sebelumnya dan ia melihat perempuan lebih erotis dan sensual. Ia menyimpulkan bahwa dirinya mungkin sudah mengalami operasi transeksual secara internal.

Contoh ingatan seluler lainnya adalah resipien perempuan bernama Claire Sylvia yang pada 1997 menerbitkan buku “A Change of Heart”. Dalam memoarnya, ia menceritakan perubahan yang dialaminya setelah menerima donor jantung dan paru-paru di Rumah Sakit Yale New Haven pada 1988. Sylvia menyadari beragam sikap, kebiasaan, dan cita rasanya berubah setelah operasi. Ia mengidam makanan yang tidak dia sukai sebelumnya. Salah satu yang disebutkannya adalah setelah meninggalkan rumah sakit pascaoperasi, dia yang sadar kesehatan punya keinginan gila-gilaan untuk pergi ke restoran cepat saji Kentucky Fried Chicken dan memesan nuget ayam. Anehnya, Sylvia tidak pernah memesan makanan itu sebelumnya. Perubahan lain pada dirinya adalah dia tidak lagi berpakaian dengan warna-warna cerah seperti merah dan oranye sebagaimana yang selalu dia pilih sebelumnya.

Teori ingatan seluler menyatakan bahwa memori, sebagaimana sifat kepribadian, tidak hanya dapat disimpan di dalam otak tetapi juga dapat disimpan di berbagai organ seperti jantung. Tingkah laku, preferensi, sampai memori donor sedikit-banyak akan menurun ke resipien. Hal tersebut menjadi efek yang tidak dapat dihindari bagi resipien. Teori ini jugalah yang aku yakin disalin secara apik oleh Neal Shusterman pada seri "Unwind". Dengan teknologi pemisahan raga, sesosok manusia terbentuk dari bagian-bagian tubuh para donor yang berbeda-beda—tangan dari seorang donor, jantung dari donor yang lain, otak dari donor yang lain lagi, dsb. Dan, anehnya, manusia itu hidup. Bayangkan bagaimana jika ingatan seluler dari masing-masing donor yang berlainan berkumpul pada satu tubuh manusia. Manusia itu akan merasa begitu kewalahan menghadapinya. Kewalahan yang dialami manusia “jadi-jadian” itu digambarkan secara gamblang pada buku ketiga seri "Unwind" karya Neal Shusterman: “UnSouled”.

Judul : Jiwa yang Tercerabut
Judul Asli: UnSouled (Unwind #3)
Pengarang : Neal Shusterman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2018
Dibaca : 31 Mei 2019
Rating : ★★★★

"Nak, kau tak bisa dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan dari benak yang bukan milikmu, sama seperti kau tidak bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukan lengan cangkokan." (hlm. 296)

Masuk daftar buku harus beli setelah tiba di Indonesia, buku ini akhirnya kuselesaikan dengan penuh kelegaan. Bertemu kembali dengan Connor, Lev, dan Risa menjadi reuni yang begitu menyenangkan bagiku—berkebalikan dengan apa yang dilalui Connor dan kawan-kawan pada buku ini tentu saja. Namun, yang menjadi perhatian utamaku kali ini adalah pengembangan karakter si manusia ajaib, seorang remaja sehat dan hidup yang terbentuk dari kumpulan organ-organ para unwind: Camus Comprix atau yang kerap disapa Cam. Cam menjadi manusia komposit yang menjadi kesuksesan awal teknologi pemisahan raga. Dia menjadi bintang sekaligus maskot Warga Proaktif (komunitas resmi pendukung pemisahan raga). Di sisi lain, banyak yang mempertanyakan “kelahiran” dirinya secara harfiah. Buku ini menarasikan gejolak perasaan Cam akan dirinya yang hadir ke dunia melalui teknologi ciptaan manusia. Tentu saja dia amat beda dari manusia lainnya, tapi apakah dia bisa berbaur dengan salah satu dari mereka. Dia bertanya-tanya apa atau siapa yang membuatnya terus hidup, yang memberinya harapan, dan satu nama muncul: Risa. Kepergian Risa membuat Cam hampa. Remaja laki-laki itu harus mencari gadis yang membuat hidupnya berwarna.

Pada saat bersamaan, hancurnya Kuburan membuat Connor dan Lev pergi sejauh-jauhnya untuk menghilangkan jejak mereka. Satu tujuan yang tercetus di pikiran mereka yang menjadi tempat aman satu-satunya bagi mereka: Sonia. Wanita yang jejaknya ingin dihapus Warga Proaktif, wanita yang mungkin saja punya jawaban-jawaban atas awal-mula kehadiran teknologi pemisahan raga yang semakin lama semakin mengerikan. Mereka bertekad untuk menghentikan mimpi buruk para remaja akan pemisahan raga dan informasi sekecil apa pun akan membantu mereka. Sementara itu, Risa terseok-seok sendirian. Gadis itu tak tahu arah dan tujuan—yang ia tahu hanya ia harus terus bergerak dan menghilang dari dunia. Akankah Cam menemukan Risa? Akankah Connor dan Lev mendapatkan jawaban-jawaban yang mereka butuhkan? Dan, yang terpenting, akankah tiga sekawan Connor, Lev, dan Risa akan berjumpa kembali?

***

Cam, Cam, dan Cam. Bagian dialah yang amat aku tunggu-tunggu pada buku ini. Nasib dirinya yang penuh resah bagai primadona tersendiri—terlebih setelah kepergian Risa dari hidupnya. Ada satu adegan yang membuat Cam pergi dari rumah dan berkunjung ke gereja Katholik terdekat untuk mencari pengakuan akan keberadaannya. Ia bertemu dengan seorang pastor dan mengajukan pertanyaan bertubi-tubi tentang status dirinya. Percakapan yang cukup intens dan menjadi bagian yang paling favorit bagiku dalam buku ini. Hal lain tentang Cam yang kutelusuri adalah betapa ia kerap kebingungan dan hilang arah bila diminta untuk mengingat—yang menjadi kelemahannya. Hal ini tentu saja ada kaitannya dengan teori memori selular yang dijabarkan di atas. Bayangkan bila kamu mendapatkan organ donor dari dua atau tiga orang berbeda, kamu akan begitu kewalahan menghadapi dampak ingatan seluler. Bagaimana dengan Cam yang diciptakan dari raga dan organ dari donor yang berbeda-beda?

Edited by Me

“UnSouled” bisa dibilang kisah tentang dampak-dampak yang terjadi setelah legalnya praktik pemisahan raga. Selain Warga Proaktif yang betul-betul gencar beriklan dan berkampanye tentang kenapa orang-orang harus mendukung pemisahan raga, muncul pula komunitas-komunitas dengan paham dan kepercayaan yang mereka yakini tentang pemisahan raga. Dalam perjalanan tanpa tujuannya, Risa bertemu dengan sebuah komunitas resipien yang memuja seorang donor yang memberikan bagian-bagian tubuhnya kepada mereka. Komunitas yang disebut dengan komune kebangkitan itu membuat semacam ritual yang dilakukan beberapa waktu sekali untuk memberkati kemurahan hari donor mereka. Di sisi lain, ada orang-orang yang memanfaatkan kondisi itu untuk menculik para remaja tak berdaya dan menjualnya kepada pihak berwenang dan meraup keuntungan. Mereka disebut perompak organ. Komunitas yang menentang pun tetap ada, seperti komunitas penduduk asli Indian yang Connor dan Lev kunjungi dan menyelamatkan mereka untuk sementara. Komunitas-komunitas dengan paham dan motif yang berbeda-beda ini tentu saja tidak dapat dihindari bila suatu kondisi kontroversial terjadi.

Sesungguhnya kebahagiaan bertemu kembali dengan Cam dkk. (sepertinya lebih cocok kusebut Cam dkk. ketimbang Connor dkk.) tidak berjalan mulus. Aku kesulitan untuk mengingat kembali cerita pada “UnWholly” yang kubaca sekitar tiga tahun lalu—peristiwa-peristiwa yang terjadi bahkan istilah-istilah yang menjadi umum pada seri ini. Aku sempat harus bertanya kepada seorang teman yang sudah menamatkan buku ini dan sesekali berselancar di internet untuk mencari jawabannya. Inilah yang menjadi nilai minus dari kisah serial yang tidak dibaca dalam sekali waktu atau setidaknya dalam jangka waktu yang relatif berdekatan sehingga mengurangi keasyikan membaca. Maka itu aku berjanji untuk membaca buku keempat yang sekaligus buku pemungkas seri "Unwind" dalam waktu dekat. Aku hanya butuh menyelinginya dengan membaca buku dengan genre yang berbeda agar kepala ini tidak pusing-pusing amat memikirkan nasib Cam dkk.

Setelah menyelesaikan beberapa buku, sungguh aku tidak pernah dikecewakan oleh karya-karya Neal Shusterman. Dan aku menimbang-menimbang untuk menjadikan seri "Unwind" sebagai seri terbaik yang kubaca. (Tunggu kubaca buku keempatnya ya.) Aku dibuat tercengang setelah mengetahui kutipan-kutipan artikel berita atau hasil studi yang dihadirkan pada awal setiap bab di dalam “UnSouled” lengkap dengan pranala-pranala webnya itu benar adanya alias nyata alias riil dan bisa dibuktikan sendiri. Dan aku begitu menikmati versi terjemahan yang ciamik sekali. Beberapa kata dan frasa terlihat asing dan harus membuka KBBI tapi tetap enak untuk dibaca. Waktu yang cukup lama untuk menunggu versi terjemahannya terbit akhirnya benar-benar terbayar lunas.

Setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata Shusterman awalnya berencana membuat seri "Unwind" hanya tiga buku. Namun, dia bilang melalui halaman penggemar Facebook-nya kalau buku ketiganya terlalu tebal dan harus membagi dua sehingga akan ada buku keempat. Banyak komentar positif bermunculan akan kabar ini tapi tidak sedikit pula komentar negatif yang datang. Salah satu komentar negatif datang dari akun bernama Becky Wilson yang mengatakan, “ppl always money greedy.” Terlepas dari itu, aku tidak sabar membaca karya pemungkas seri ini!

"Mereka menciptakan keinginan... dan keinginan berubah jadi kebutuhan... dan pemisahan raga menjadi benang yang ditenun ke dalam segala hal." (hlm. 532)

Baca juga ulasan:
1. “Unwind” (buku pertama seri Unwind)
2. “UnWholly” (buku kedua seri Unwind)

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats