Being Henry David & Kesendirian

Dalam bukunya yang berjudul Walden, Tokoh Transendentalisme Henry David Thoreau menuliskan kata-kata ini:

“Aku menyadari bahwa menyendiri adalah bagian terbaik dari waktu. Ditemani, walaupun dengan sahabat terbaik, akan segera melelahkan dan lenyap. Aku sangat menyukai kesendirian. Aku tidak pernah menemukan sahabat yang setia seperti kesendirian.”

Kata-kata yang saya baca dalam novel Being Henry David karya Cal Armistead membuat saya ingin membaca Walden-nya Henry David Thoreau lebih lanjut. Rasanya, saya mendapatkan suatu filosofi yang mendukung psikologi manusia termasuk soal kesendirian (solitude). Kesendirian buat para introvert mungkin sudah biasa. Orang mengindentikkan introvert sebagai penyendiri. Padahal tidak seperti itu. Introvert sama seperti ekstrovert dan ambivert. Ia bersosialisasi. Namun, ia membutuhkan lebih banyak waktu untuk sendiri. Bahkan menurut pengalaman saya, seorang ektrovert pun membutuhkan waktu untuk sendiri. Hanya saja porsinya berbeda.

Being Henry David menitikberatkan pada kesendirian itu sendiri. Yang saya pikir, ada beberapa fase.

Dimulai ketika kamu membaca halaman pertama. Pemuda berumur tujuh belas tahun terbangun di Stasiun Penn, New York tanpa ingatan sama sekali. Ia tidak tahu namanya, siapa dirinya, dan dari mana ia berasal. Satu-satunya petunjuk yang ia miliki adalah sebuah buku berjudul ‘Walden’ karya Henry David Thoreau yang ada di tangannya. Look at that! Sang penulis sudah menunjukkan sedari awal bahwa tokoh utama kisah tersebut sendirian, seolah sang penulis tahu ketakutan terbesar manusia zaman sekarang. Hal itu terlihat dari narasi yang dipaparkan sang narator. Kata-katanya memang mewakili perasaan orang-orang yang merasa berjuang sendiri, orang-orang yang melarikan diri dari masalah, orang-orang yang putus asa, dsb.

“Perasaan tidak diinginkan siapa pun dan kau tidak diterima di mana pun bisa membuat seseorang sedikit gila.”

“Tuhan, aku lelah. Tak ada lagi pertempuran dalam diriku, tak ada lagi kekuatan.”

“Yang paling ingin kulakukan adalah masuk ke dalam amnesia permanen.”

“Memilih hidup berarti menghadapi rasa sakit dan aku tidak cukup kuat. Kematian adalah akhir, pelarian pamungkas bagi kita yang berada dalam pelarian.”

Setelah merasa sendiri, fase selanjutnya adalah merasa kebingungan. Menggunakan buku yang ada di tangannya itu, Pemuda itu mencoba mencari jati dirinya. Dapatkah ia mengingat kembali siapa dirinya? Atau lebih baik ia tidak mengingatnya sama sekali?

Satu kata yang pantas menggambarkan perasaan itu. Dilema.

“Seperti binatang yang terluka, aku ingin meringkuk dan bersembunyi sampai aku merasa lebih baik. Bintang sekali pun bisa menemukan gua atau lubang di pohon tempat mereka beristirahat. Ke mana aku bisa pergi?”

Fase berikutnya adalah mulai mencari cara. Keputusan apa yang harus diambil. Sang tokoh utama akhirnya bertekad untuk mencari tahu siapa dirinya dan kenapa ia ada di stasiun Penn tanpa ingatan sama sekali dan hanya berbekal sebuah buku. Pada titik ini saya melihat perkembangan karakter sang tokoh utama. Itu yang membuat saya menyukai cerita ini. Karakter tokoh utama, yang akhirnya dipanggil Hank, sangat kuat. Berani menghadapi risiko walaupun ia tidak tahu apa yang akan dihadapinya di depan sana.

“Sekali lagi, aku mencari tempat bernaung. Sulit untuk fokus agar bisa terus menjalani hidupku yang kacau-balau ketika aku bahkan tidak tahu di mana aku akan tidur malam ini. Ditambah, keunagnku semakin kritis. Ada yang harus diubah.”

“Sekalipun luka di bagian sampingku berdenyut setiap kali kakiku menginjak tanah, lari rasanya menyenangkan. Melarikan diri. Seakan aku sedang meloloskan diri dari sesuatu yang menyeramkan dan berlari kepada sesuatu yang lebih baik.”

Selain perkembangan karakter sang tokoh, saya sangat menyukai ending-nya. Sederhana, tapi bisa mengoyak-ngoyak jiwa (hahah.. bahasanyaaa). Tapi, serius! Endingnya membuat saya ikut merasakan pertarungan batin sang tokoh utama antara meneruskan sesuatu atau tidak. Seperti yang Henry David Thoreau tulis dalam Walden,

“Saat kita kehilangan dunia, barulah kita mulai menemukan diri kita sendiri.”

Bagian akhir buku ini membuat saya sedih. Dan teringat bahwa akhir dari sesuatu bukanlah akhir dari segalanya. Bab penutupnya membuat saya sadar bahwa ada pelajaran yang bisa dipetik. Bahwa saya tidak sendiri. Kalian tidak sendiri.

“Akhir,” Ayah mengulangnya dan memandangku. Kami saling bertatapan, dan aku tahu benar apa yang dia pikirkan. Apa yang tampak seperti akhir bisa saja dianggap sebagai permulaan.

Sengaja saya menulis review ini berbeda dari review-review saya sebelumnya karena buku Being Henry David sangat personal untuk saya. Suddenly I shed my tears when I remember those hard times. Karena itu, saya tutup review ini dengan quotes dari Walden-nya Mr. Thoreau, yang menjadi salah satu quotes favorit saya.

“Hari hanya terbit jika kita terbangun dari tidur. Ada banyak hari ke depan yang akan terbit. Matahari hanyalah bintang pagi.”


Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats