Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan: Cerpen Pilihan KOMPAS 1997

Judul: Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan (Cerpen Pilihan KOMPAS 1997)
Pengarang: Kuntowijoyo, Harris Effendi Thahar, Bre Redana, Afrizal Malna, Seno Gumira Ajidarma, dll
Tebal: 228 hlm
Cetakan: Kedua, 2017
Penerbit: Kompas

34851557. sx318

Berkaca dari pengalaman baca kumcer kumcer sastra sebelumnya, saya tidak membaca pengantar dan penutup di buku ini. Selain karena panjangnya yang jauh lebih panjang daripada cerpen-cerpen itu sendiri, juga untuk menghindari semacam contekan. Kadang, memang sesekali terselip spoiler dalam sebuah tulisan pengantar kumcer. Mungkin maksudnya memang tidak sengaja, tapi tetap saja semacam spoiler ini bakal membuat pengalaman membaca cerpen tidak orisinal lagi karena terkontaminasi. Karena pandangan kita saat membaca cerpen sudah terpengaruh oleh pandangan para ahli sastra dan kritikus. 

Saya sadar diri kok kalau saya belum mampu menangkap esensi sastrawi kumcer-kumcer Kompas yang lumayan berat di buku ini. Tapi, dalam studi sastra ada disebutkan bahwa setiap pembaca berhak memiliki interpretasi sendiri atas sebuah karya. Juga, sebuah karya sudah pasti akan diinterpretasikan bermacam-macam oleh pembaca yang berbeda. Hal yang begini wajar-wajar saja. Setidaknya, kita membaca dengan pikiran yang benar-benar kosong, siap menyambut semburan apa pun itu yang ditawarkan oleh sebuah karya sastra.
Jadi, saya membuka buku ini tanpa ekspektasi apa pun kecuali pandangan bahwa setiap cerpen yang lolos di harian Kompas pasti bermutu.


Ternyata,  buku ini isinya memang bagus-bagus terlepas dari beberapa cerpen yang kesannya masih berat. Berat di sini lebih karena penulis menggunakan begitu banyak perlambang sehingga pembaca awal seperti saya belum mampu mengikutinya. Untungnya, ada Kuntowijoyo--sang penulis idola. Cerpen-cerpen paling awal adalah yang paling bagus menurut saya justru karena cerpen-cerpen itu sederhana. Saya bersorak ketiga tiga cerpen karya penulis favorit saya muncul 3 kali di buku ini, langsung di bagian awal. Salah satunya menjadi pemenang cerpen Kompas 1997. Yup, tidak lain adalah cerpen-cerpen karya Kuntowijoyo. Memang, ceritanya masih konsisten dengan elemen desa, Jawa, dan sederhana. Lalu dilengkapi dengan tendangan di menjelang akhir kisah. Namun, cerita karya Kuntowijoyo nyatanya tetap bisa diterima pembaca Indonesia.

Cerpen-cerpen lain yang mengingatkan saya pada indahnya baca cerpen adalah karya AA Navis. Pengarang "Robohnya Surau Kami" ini masih mempertahankan ciri Sumatra Barat dengan petuah yang kental. karya-karya penulis lain menurut saya nilainya seragam, maksudnya seragam bagusnya. Walau ditulis tahun 1997, tema cerpen-cerpen di buku ini anehnua masih sangat relevan dibaca. Saya sampai berkali kali membuka halaman judul untuk mengingatkan saya bahwa buku ini terbit pertama tahun 1997. Tema paling dominan adalah permasalahan orang kecil: kekerasan dalam rumah tangga terutama kekerasan kepada wanita. Beberapa kali pembaca akan menemukan suami yg tidak niat menjadi suami dengan menelantarkan istri dan anak-anaknya.

Sejumlah cerpen memang menyinggung politik. Ajaibnya lagi, sejumlah tanda-tanda jatuhnya rezim orde baru juga sudah terindikasi di beberapa cerpen. Beberapa cerpen juga masih menunjukkan keajaibannya (baca: serius jadi agak susah dicerna) di antaranya cerpen karya Budidarma dan SGA. Cerpen keduanya sarat perlambang yang saya belum bisa menikmatinya, bahkan secara sederhana.


Tapi, sebagaimana penutup di buku ini, cerpen ditulis pertama untuk dinikmati. Biarlah para sastrawan dan kritikus sastra yang menganalisis secara mendalam dan ilmiah aneka simbol dalam karya sastra. Sekadar mau membacanya saja sudah merupakan upaya kita untuk turut merayakan sastra. Baca kumcer itu juga menyenangkan kok.


Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats