2018#4: Kisah Hidup Morrigan Crow

Judul asli: Nevermoor, The Trials of Morrigan Crow
Penulis: Jessica Townsend
Penerjemah: Reni Indardini
Editor: Yuli Pritania
ISBN: 9786023853571
Halaman: 464
Cetakan: Pertama-2017
Penerbit: Noura Books
Harga: Rp 84.000
Rating: 3,5/4

Aku tercatat di Register Anak Terkutuk. 
Malam ini Eventide. 
Aku akan mati saat tengah malam

Bagi banyak orang tua, anak merupakan anugrah. Bahkan jika belum juga memiliki anak, mereka akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mendapatkan anak. Segala daya dan upaya dilakukan. Tapi  sepertinya tidak  demikian pendapat beberapa orang tua di  Jackalfax.

Di sana,  ada beberapa anak yang dianggap membawa nasib sial, anak yang terkutuk. Anak-anak tersebut bahkan dibuatkan semacam daftar agar mudah dipantau keberadaannya serta apa saja kemalangan yang sudah mereka timpakan pada orang lain.

Orang tua yang memiliki anak seperti itu harus siap mendapat tekanan dalam banyak bentuk. Ada yang mengirimi permintaan maaf karena tak sengaja sang anak mengomentari suatu hal lalu terjadi hal buruk karenanya. Hingga ganti ruti karena anggota keluarga meninggal hanya karena tak sengaja bertatapan mata.
 
Menyeramkan? Ada yang lebih menyeramkan lagi. Anak-anak tersebut konon sudah diramalkan akan meninggal pada malam Eventide. Jadi para orang tua diharap bersabar memiliki anak terkutuk hingga anak tersebut meninggal kelak. Sementara sang anak diharap untuk tahu diri tidak menyebabkan banyak kemalangan sebelum meninggal. Salah satu anak yang termasuk dalam daftar tersebut adalah Morrigan Crow

Morrigan hidup bersama dengan ayah yang merupakan politisi kawakan dan tak henti mengeluh harus membayar ganti rugi akibat hal-hal negatif yang dihubungkan dengannya. Nenek yang terkesan bersikap masa bodoh padahal sebenarnya mencintainya, serta ibu tiri yang sudah tak sabar menyiapkan sebuah upacara pemakaman baginya.  Semuanya seakan bernapas  lega jika akhirnya Morrigon tak ada di antara mereka.

Kemalangannya mendadak berubah ketika bertemu dengan sosok misterius yang mengendarai model transportasi yang tak kalah anehnya. Kapten Jupiter Amanthius North merupakan anggota terpandang Wundrous Society, Liga Penjelajah, dan Federasi Perhotelan Nevermoor. Sekretaris Komisi hak-hak Wunimak, relawan  pejuang buku Perpustakaan Gobleian, dan ketua Lembaga Amal untuk Mantan Robot Pelayan. Penemu tujuh belas semesta yang semula tak terdokumentasikan  dan peraih gelar Pria Perlente Tahun Ini versi majalah Pria Parlente selama empat tahun berturut-turut. Ia membawa Morrigan  membawanya ke Nevermoor.

Kehidupan Morrigan berubah di sana. Ia mendapatkan segala hal yang tak pernah diperoleh selama tinggal bersama keluarganya. Semua hal juga tampaknya akan berbeda dengan yang selama ini ia alami di tempat tinggal yang lama. Semua seakan berjalan sempurna bagi Morrigan, hingga  Kapten Jupiter memberitahukan alasan sebenarnya membawa Morrigan ke Nevermoor.

Pembaca akan diajak mengikuti kisah pencarian jati diri seorang anak perempuan yang mengharukan. Meski demikian, jangan harap ada banyak adegan yang menguras air mata. Sosok Morrigan yang digambarkan tegar justru membuat kisah dalam buku ini menjadi lebih bervariasi. Ada momen tertawa, takut, bahagia dan sedih tentunya.

Entah hanya perasaan saya saja, namun sepertinya Jessica Townsend cukup terinspirasi dari kisah Harry Potter dan kisah klasik lainnya ketika menulis kisah tentang Morrigan. Hal ini bisa dilihat dari beberapa kemiripan yang muncul dalam kisah.

Misalnya pada  bagian yang mengisahkan tentang seleksi untuk masuk menjadi anggota Wundrous Society, langsung membuat saya teringat pada Turnamen Triwizard  pada buku HP ke-4. Bedanya dalam kisah ini tiap kandidat harus memiliki seorang  pengayom yang juga merupakan anggota.  Mereka yang lulus  ujian  akan menjadi semacam saudara, orang yang rela membaktikan hidup untuk kita. Dan hadiah yang diperoleh bukan uang tapi keanggotaan

Kemiripan lain ada dalam hal musuh yang namanya enggan disebut dan tak diizinkan masuk ke wilayah Nevermoor. Plus nyaris tak ada orang yang masih menyimpan fotonya. Bahkan  Morrigan juga digambarkan tidak pernah mendengar ada yang mau membicarakan tentang sosok  yang dijuluki Pembantai Nevermoor. Apapun alasannya bagian ini makin mirip dgn kisah HP.

Selanjutnya yang membuat saya ingat pada sebuah kisah klasik adalah kover buku ini. Pertama kali melihat kover buku ini, saya langsung teringat pada kisah Marry Poppins. Digambarkan sosok  Marry Poppins  mempergunakan payung sebagai sarana transportasi. Untuk  informasi singkat mengenai Marry Poppins bisa  dilihat di sini.

Oh ya untuk kover, sebenarnya saya paling suka dengan kover versi bahasa Jerman. Selain didominasi dengan warna biru (ehem), gambarnya membuat saya merasakan semangat seorang anak dalam menjalani kehidupan. Benda yang ia pegang, justru makin membuat saya penasaran dengan isi kisah dalam buku ini.

Selain hiburan, saya juga jadi belajar semua kata baru. (duh, maaf jika saya baru tahu).  Pada halaman 98 tertulis, "... dan melompat dari langkan." Maknanya bisa  dilihat di link ini. Juga kata mendugalkan. Tepatnya tertulis  di halaman 150, "Pria mendugalkan. Hindari dia layaknya cacar." Penjelasannya ada di link berikut ini.

Ada satu pesan moral yang paling mengena bagi saya. Ketika sedang mengikuti perlombaan, Morrigan mencoba menolong seorang peserta yang nyaris celaka. Ia membawa peserta itu menaiki tunggangannya bersama. Niat baiknya itu justru membuatnya celaka. Karena duduk di depan maka anak itu yang dianggap memenangkan perlombaan, ia kalah. Ironinya, sang anak yang ditolong juga  mengklaim ialah pemilik tunggangan dan berhasil melakukan tugas dengan baik.

Pada halaman 257 tertulis, "Kenapa semua orang mengira bahwa sikap kesatria dan sportif akan menguntungkan mereka? Kami menguji kegigihan dan ambisi, bukan kebaikan hati." Hal tersebut memberikan pencerahan bahwa berbuat baik  dengan menolong sesama merupakan hal yang perlu dan harus dilakukan. Hanya harus diingat kapan bisa dilakukan kapan harus bersikap masa bodoh demi keselamatan diri sendiri. Menolong adalah hal baik, tapi jangan sampai merugikan diri sendiri.

Sempat penasaran pada akhir yang berkesan tak tuntas. Semula saya menganggap beginilah cara penulis mengakhiri kisah. Jika sambutan menggembirakan dilanjutkan, jika tidak ya sudah. Belakangan, saat membuat ulasan baru saya sadari ada tulisan Buku Satu. Duh, semoga buku selanjutnya segera muncul di tanah air. Pahamkan kenapa bintangnya jadi "cuman segitu."

Sumber gambar:
Goodreads


Share this post:

Recent Posts

Comments are closed.

View My Stats