13 Reasons Why

Karena masa lalu tidak bisa ditulis ulang. (hlm. 74)

Sudah lumayan lama nyidam buku ini, tapi nggak pernah kesampaian hingga akhirnya terbit ulang dengan cover dan penerbit yang berbeda. Menurutku untuk cover yang ini keren banget. Nuansa kelamnya dapet, trus ada deretan 13 kaset yang saling terhubung satu sama lain yang merupakan representasi jalan ceritanya buku ini.

Kenapa saya pengen banget baca buku ini? Karena entah kenapa, saya selalu suka buku bertema bullying seperti ini. Mungkin selain karena bekerja di sekolah yang artinya bisa menjadi semacam referensi jika terjadi hal-hal yang berkaitan dengan bullying, juga karena adik kandung sendiri (yang paling kecil) sering mengalami bullying selama sekolah (SD, SMP, dan SMK) dan itu menimbulkan efek trauma yang berkepanjangan 😦

“Hai, teman-teman. Hannah Baker di sini. Hidup dan dalam di stereo. Tanpa pemunculan kembali. Tanpa pengulangan. Dan kali ini, tentu saja tanpa permintaan. Kuharap kalian siap, sebab aku akan menceritakan kisah hidupku kepada kalian. Lebih jelasnya, kisah tentang kenapa kehidupanku berakhir. Dan kalau kalian sedang mendengarkan rekaman-rekaman ini, artinya kalian adalah salah satu alasannya. Aku tidak akan mengatakan kaset mana yang melibatkan kalian. Tapi, jangan takut, kalau kalian menerima kotak kecil yang cantik itu, nama kalian akan muncul kok. Aku janji. Peraturannya sangat mudah. Cuma ada dua. Pertama: kalian mendengarkan. Kedua: kalian mengedarkan. Semoga saja, tidak satu pun di antara dua itu ada yang mudah untuk kalian.” (hlm. 23-24)

Beberapa minggu lalu, hanya beberapa hari sebelum Hannah menelan pil, ada sebuah amplop yang diselipkan ke kisi-kisi loker Clay. Pada amplop itu, dengan spidol merah tebal, tertulis: SIMPAN INI KAU AKAN MEMBUTUHKANNYA. Di dalamnya terdapat peta kota yang dilipat, dengan sekitar selusin bintang berwarna merah menandai tempat yang berbeda-beda di sekitar kota.

Di sekolah dasar, Clay dan kawan-kawannya menggunakan peta serupa untuk belajar tentang utara, selatan, timur dan barat. Nomor-nomor kecil berwarna biru menyebar di sekeliling peta sesuai dengan nama-nama tempat yang tertera di pinggirnya.

Clay menyimpan peta Hannah di ranselnya, berniat menunjukkannya ke sekeliling sekolah untuk melihat apakah orang lain juga mendapatkannya. Untuk melihat apakah ada yang tahu artinya. Namun waktu berlalu, petanya terselip di bawah buku pelajarannya dan Clay lupa sama sekali tentang itu. Hingga saat ini. Ketika Clay mendengarkan rekaman suara Hannah dalam kaset.

Hannah mengatakan dia telah membuat kopi dari setiap kaset. Namun bagaimana jika tidak? Mungkin jika kasetnya dihentikan, dan tidak diedarkan Clay, semua akan berakhir di sini. Begitu saja. Tidak ada yang terjadi. Namun bagaimana jika ada sesuatu dalam kaset-kaset ini yang dapat menyakitinya? Bagaimana jika ini bukan jebakan? Bagaimana jika kaset-kaset cadangan itu akan disebarkan? Begitulah Clay merasa cemas sendiri, antara berhenti sampai di sini atau mendengarkan semua rekaman kaset yang ada.

Tidak hanya Clay, sebagai salah satu penerima kaset rekaman suara Hannah yang cemas, kita sebagai pembaca pun juga larut dengan kecemasan yang terjadi dalam buku ini. Setiap satu rekaman kaset selesai didengarkan, penasaran dengan apa isi rekaman kaset selanjutnya? Dan siapa sajakah yang terlibat, karena Hannah mengatakan ada beberapa orang menurutnya terlibat dalam usahanya mengakhiri hidupnya dua minggu yang lalu. Termasuk Clay, hal apakah yang dilakukannya terhadap Hannah, hingga menyakiti perasaan gadis tersebut?

Tidak hanya Clay, ada teman-teman Hannah lainnya yang merepresentasikan tipikal siswa-siswa di sekolah. Mulai dari playboy macam Justin yang sebenarnya cinta pertama Hannah, sampai ada siswa yang tukang intip alias demen foto candid teman-teman cewek di sekolah x))

Ada banyak sekali pesan moral yang disampaikan penulis lewat kisah Hannah dalam buku ini:

  1. Tanpa disadari, saat sekolah kita pasti pernah mengalami atau melakukan membuat daftar sesuatu yang buruk di selembaran kertas yang beredar di kelas. Di kelas Hannah ada, anak-anak cowok di kelasnya membuat daftar semacam dua list terburuk dan terbaik pandangan mereka terhadap fisik anak cewek. Hal itu tidak hanya membuat cewek di barisan terburuk yang merasa malu, cewek di barisan terbaik pun ternyata merasa dilecehkan. Seperti halnya Hannah.
  2. Jangan diam saja jika melihat sesuatu yang buruk. Suatu penyesalan yang dialami Clay yang sebenarnya tahu jika Hannah sedang mabuk. Kala itu dia menganggap biasa saja, dan ternyata Hannah tidak baik-baik saja.
  3. Jangan lari dari masalah. Seberat apa pun masalah, tidak akan selesai jika lari dari kenyataan. Karena terkadang akan menambah masalah-masalah yang lainnya. Seperti bola salju yang menggelinding, akan semakin membesar jika tidak dihentikan.
  4. Mendengarkan seseorang yang memiliki masalah. Jika tidak bisa memberikan solusi, setidaknya mendengarkan keluh kesahnya saja minimal sudah melegakan si pencerita yang memiliki masalah. Jangan menambah masalah dengan menghakimi atas apa yang dialami pencerita. Dari sekian tokoh yang ada di buku ini, sebenarnya yang paling fatal adalah sikap Mr. Potter. Tapi di kehidupan nyata pun kita memang pasti akan menemukan guru seperti Mr. Potter ini. Sikapnya terhadap Hannah lumayan fatal.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Sebab sebagian dari luka itu tidak bisa dilihat secara kasatmata. (hlm. 82)
  2. Terkadang tidak ada orang disekitarmu untuk menyuruhmu diam, benar-benar diam. Terkadang kalian harus diam saat sedang sendirian. (hlm. 88)
  3. Biasanya, saat seseorang memiliki reputasi terkenal, ada orang lain yang siap mencabik-cabiknya. Mereka menanti munculnya keburukan yang fatal. (hlm. 206)
  4. Menyenangkan rasanya tahu ada orang yang mengerti apa yang sedang kita alami. (hlm. 243)
  5. Kadang-kadang orang kesulitan untuk bersikap terbuka, bahkan kepada konselor yang sangat menjaga kerahasiaan. (hlm. 277)

Keterangan Buku:

Judul                                     : 13 Reasons Why

Penulis                                 : Jay Asher

Penerjemah                       : Mery Riansyah

Penyunting                         : Herliana Isdanti

Desain sampul                   : sukutangan

Penata sampul                  : @teguhra

Penerbit                              : Spring

Terbit                                    : Mei 2018

Tebal                                     : 324 hlm.

ISBN                                      : 978-602-6682-24-6

Share this post:

Related Posts

Comments are closed.

View My Stats